animasi bergerak gif
My Widget
LP dan Askep: Askep dan Laporan Pendahuluan Pasien dengan Vertigo
HIDUP Adalah PERJUANGAN
Maka Persiapkan Diri Untuk Menghadapi Kesulitan
mwb backlink
backlink backlink
AKTIFKAN BACKLINK ANDA DISINI
=> Pasang Backlink di Situs/Blog Anda Sekarang

Sabtu, 07 Juli 2012

Askep dan Laporan Pendahuluan Pasien dengan Vertigo

I.Diagnosa Medik
VERTIGO
II.PengertianVertigo
Vertigo adalah gejala klasik yang dialami ketika terjadi disfungsi yang cukup cepat dan asimetris system vestibuler perifer (telinga dalam) (Smeltzer & Bare, 2002).
Vertigo adalah sensasi berputar atau berpusing yang merupakan suatu gejala, penderita merasakan benda-benda di sekitarnya bergerak-gerak memutar atau bergerak naik-turun karena gangguan pada sistem keseimbangan (Arsyad soepardi efiaty dan Nurbaiti, 2002).
Pasien Vertigo
III.Etiologi Vertigo
Vertigo merupakan suatu gejala, penyebabnya antara lain akibat kecelakaan, stres, gangguan pada telinga bagian dalam, obat-obatan, terlalu sedikit atau banyak aliran darah ke otak, dll. Tubuh merasakan posisi dan mengendalikan keseimbangan melalui organ keseimbangan yang terdapat di telinga bagian dalam. Organ ini memiliki saraf yang berhubungan dengan area tertentu di otak. Vertigo bisa disebabkan oleh kelainan di dalam telinga, di dalam saraf yang menghubungkan telinga dengan otak dan di dalam otaknya sendiri.
Penyebab umum dari vertigo:
- Keadaan lingkungan : mabuk darat, mabuk laut.
- Obat-obatan : alkohol.
- Kelainan telinga : endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga bagian dalam yang menyebabkan benign paroxysmal positional vertigo (jenis vertio yang menyerang dalam waktu yang singkat tetapi bisa cukup berat yang terjadi secara berulang-ulang. Vertigo ini muncul setelah terserang infeksi virus atau adanya peradangan dan kerusakan di daerah telinga tengah. Saat menggerakkan kepala/ menoleh secara tiba-tiba maka gejalanya akan muncul), infeksi telinga bagian dalam karena bakteri, labirintis, penyakit maniere, peradangan saraf vestibuler, herpes zoster.
- Kelainan Neurologis : Tumor otak, tumor yang menekan saraf vestibularis, sklerosis multipel, dan patah tulang otak yang disertai cedera pada labirin, persyarafannya atau keduanya.
- Kelainan sirkularis : Gangguan fungsi otak sementara karena berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak ( transient ischemic attack ) pada arteri vertebral dan arteri basiler.
IV.Patofisiologi Vertigo
Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis.
Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar, akan diproses lebih lanjut. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom; di samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya.
V.MANIFESTASI KLINIS
Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.
VI.Pemeriksaaan Fisik pad Pasien Vertigo
1.Pemeriksaan mata
2.Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh. Test pendegaran bisa menetukan adanya kelainan telinga yang mempengaruhi keseimbangan dan pendengaran. Untuk menguji keseimbangan pasien diminta untuk berdiri dan kemudian berjalan dalam satu garis lurus, awalnya dengan mata terbuka kemudian dengan mata tertutup.
3.Pemeriksaan neurologik
4.Pemeriksaan otologik
5.Pemeriksaan fisik umum
VII.Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan  CT-scan atau MRI kepala dapat menunjukkan kelainan tulang atau tumor yang menekan saraf. Jika diduga infeksi maka bisa diambil contoh cairan dari telinga atau sinus atau dari tulang belakang. Sedangkan kalau di duga terjadi penurunan aliran darah ke otak, maka di lakukan pemeriksaan angiogram, untuk melihat adanya sumbatan pada pembuluh darah yang menuju ke otak
VIII.Penatalaksanaan
Langkah-langkah untuk meringankan atau mencegah gejala vertigo:
- Tarik napas dalam-dalam dan pejamkan mata
- Tidur dengan posisi kepala yang agak tinggi
- Buka mata pelan-pelan, miringkan badan atau kepala ke kiri dan ke kanan
- Bangun secara perlahan dan duduk dulu sebelum beranjak dari tempat tidur
- Hindari  posisi membungkuk bila mengangkat barang
- Gerakkan kepala secara hati-hati
IX.Diagnosa Keperawatan Vertigo
1.Gangguan rasa nyaman nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial.
2.Risiko defisit volume cairan berhubungan dengan meningkatnya haluran cairan, perubahan pemasukan, dan obat-obatan
3.Risiko tinggi cedera berhubungan dengan perubahan mobilitas karena gangguan cara berjalan
4.Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
5.Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.
DAFTAR PUSTAKA
- Doenges, M.E. (2000). Rencana asuhan keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC.
- Price, S.A., & Wilson, L.M. (2006). Patifisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit.Vol.2. Jakarta: EGC.
- Sherwood, L. (2001). Fisiologi manusia: dari sel ke sistem, Ed: 2. Jakarta: EGC
- Smeltzer, S.C., & Bare, B.G. (2002). Buku ajar keperawatan medical-bedah Brunner & Suddarth, vol:3. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar